SETIANEWS Berita Bola Terkini Situs Setiawd

SETIAWD

Dari Jurang Terdalam, Schalke Bangkit: Kisah Kebangkitan Raksasa Jerman yang Sempat Terlupakan

 

Setianews – Ketika peluit panjang berbunyi di Veltins-Arena pada pertengahan pekan itu, ribuan suara meledak menjadi satu — campuran tangis, tawa, dan nyanyian yang sudah terlalu lama tertahan. Schalke 04 mengalahkan Fortuna Duesseldorf 1-0, dan dengan kemenangan kandang itulah, raksasa sepak bola Jerman ini resmi kembali ke Bundesliga setelah tiga musim tersesat di divisi kedua. Bagi banyak orang yang menyaksikannya dari dalam klub, momen tersebut bukan sekadar pencapaian olahraga. Ia adalah akhir dari sebuah perjalanan panjang yang penuh dengan kesalahan, kesakitan, dan kerja keras yang tak selalu terlihat dari luar.

Schalke bukan klub sembarangan. Dengan tujuh gelar juara Jerman di lemari trofi mereka, klub dari kota Gelsenkirchen ini telah lama menjadi salah satu institusi terbesar dalam sepak bola Eropa. Jumlah anggotanya melampaui 200.000 orang, sebuah angka yang di Jerman hanya bisa ditandingi oleh Bayern Munich dan rival bebuyutan mereka, Borussia Dortmund. Basis pendukung sebesar itu bukan hanya angka statistik — ia adalah identitas, warisan, dan sekaligus beban yang harus dipikul oleh siapa pun yang mengelola klub ini.

Maka ketika Schalke terdegradasi untuk pertama kalinya dalam tiga dekade pada tahun 2021, lukanya terasa begitu dalam. Bukan hanya karena hasil di lapangan, tetapi karena degradasi itu datang di tengah tekanan finansial yang sudah menumpuk jauh sebelumnya. Era pandemi Covid-19 telah memukul klub-klub sepak bola di seluruh dunia, dan Schalke tidak terkecuali. Tanpa penonton, tanpa pemasukan tiket, tanpa atmosfer yang biasanya menjadi kekuatan mereka, klub ini terhuyung-huyung di bawah tumpukan utang yang kian membesar.

Namun cerita belum selesai di situ. Setelah berhasil langsung promosi kembali ke Bundesliga — seolah-olah bencana 2021 hanyalah mimpi buruk sejenak — Schalke kembali terjatuh. Degradasi kedua dalam rentang waktu yang begitu singkat itu terasa jauh lebih menyakitkan, karena kali ini tidak ada jalan pintas yang tersedia. Pemulihan tidak datang dengan cepat, dan musim demi musim berlalu dengan Schalke tetap tertatih-tatih di kasta kedua. Lalu pada tahun 2022, pukulan lain datang dari arah yang tak terduga: kontrak sponsor dengan Gazprom, raksasa energi asal Rusia yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu penyangga finansial terbesar klub, harus dihentikan menyusul invasi Rusia ke Ukraina. Kehilangan sponsor sebesar itu bukan hal kecil — ia meninggalkan lubang besar di dalam struktur keuangan klub yang sudah rapuh.

Matthias Tillmann, yang bergabung sebagai CEO Schalke pada tahun 2024 setelah sebelumnya berkarir panjang di sektor swasta, tidak mencoba menyembunyikan betapa seriusnya situasi yang ia warisi. Berbicara kepada AFP, Tillmann dengan terus terang menyebut keberadaan Schalke di divisi kedua sebagai sebuah “kesalahan” — bukan dalam artian kecelakaan yang tak bisa dihindari, melainkan akumulasi dari keputusan-keputusan yang salah. “Kami bukan klub divisi kedua jika dilihat dari segi penggemar dan infrastruktur,” katanya. “Jelas, kami berada di sana sekarang dan ada alasan untuk itu. Kami telah membuat kesalahan di sisi olahraga, alokasi modal… Degradasi pertama pada tahun 2021, awal Covid, sangat berat secara finansial. Kemudian kami langsung terdegradasi lagi, yang tidak baik.”

Yang membuat Tillmann sedikit berbeda dari kebanyakan eksekutif sepak bola adalah latar belakangnya. Ia bukan orang luar yang datang untuk memperbaiki bisnis yang sedang sakit. Ia adalah penggemar Schalke seumur hidup yang sadar betul apa artinya mengemban tanggung jawab di klub ini. “Ini bukan bisnis biasa,” katanya tentang sepak bola. “Kami di sini bukan untuk mencari keuntungan, untuk meningkatkan pendapatan — itu hanya sarana untuk mencapai tujuan. Kami memiliki semua ini untuk membangun skuad yang hebat, untuk memenangkan trofi.” Bagi Tillmann, angka-angka di neraca keuangan hanyalah alat, bukan tujuan akhir.

Ironisnya, di tengah keterpurukan itu, loyalitas pendukung Schalke tidak pernah goyah. Setiap pertandingan kandang musim ini dihadiri lebih dari 60.000 penonton — sebuah angka yang bahkan banyak klub Bundesliga pun iri. Namun kesetiaan itu sendiri menyimpan tekanan tersendiri. Ukuran dan sejarah Schalke membuat ekspektasi selalu berada pada level yang tinggi, dan itu bisa menjadi bumerang yang menghantui para pemain di setiap pertandingan.

Musim 2024-25 menjadi titik terendah yang sesungguhnya. Schalke menghabiskan sebagian besar musim itu terjebak di dekat zona degradasi, dan akhirnya finis di posisi ke-14 dari 18 tim. Itulah konteks di balik perubahan besar yang kemudian terjadi pada musim panas. Klub merekrut Miron Muslic sebagai pelatih kepala dan mendatangkan Frank Baumann untuk memimpin departemen olahraga. Dua nama baru itu datang bukan sekadar untuk mengganti nama-nama lama, tetapi untuk membangun ulang sesuatu yang jauh lebih fundamental: pola pikir.

Baumann, mantan direktur olahraga Werder Bremen yang dikenal tenang dan metodis, menggambarkan tugas mereka dengan jujur. Ia menyebut apa yang mereka hadapi sebagai warisan dari “musim terburuk” dalam sejarah Schalke belakangan ini — dan ia percaya Muslic adalah kunci untuk mengubah atmosfer yang sudah terlalu lama diracuni oleh rasa takut. “Dalam beberapa tahun terakhir, mungkin para pemain takut akan reaksi pendukung ketika mereka kalah,” kata Baumann kepada AFP. “Tetapi pola pikir ini, kami ubah pada musim panas. Miron, sebagai pelatih kepala, memiliki pengaruh besar dalam hal ini.”

Muslic membawa energi berbeda ke dalam ruang ganti. Di bawah asuhannya, Schalke yang dulu tampak tertekan perlahan berubah menjadi tim yang bermain dengan kepala tegak — bukan karena tiba-tiba menjadi mahir secara teknis, tetapi karena mereka tidak lagi bermain dalam bayang-bayang ketakutan. Hasilnya terasa paradoksal namun nyata: pada pertengahan musim, Schalke memuncaki klasemen meskipun baru mencetak 22 gol dalam 17 pertandingan — salah satu torehan terendah di divisi tersebut, dengan hanya enam tim yang mencetak lebih sedikit. Efisiensi, soliditas, dan mentalitas menggantikan permainan menyerang yang meriah namun rapuh.

Lalu datanglah Edin Dzeko. Striker veteran asal Bosnia-Herzegovina itu direkrut Schalke pada bulan Januari dalam sebuah langkah yang, pada awalnya, mungkin terlihat lebih seperti nostalgia daripada strategi. Namun Dzeko membuktikan bahwa usia hanyalah angka bagi mereka yang masih memiliki api. Dalam sembilan pertandingan bersama Schalke, ia mencetak enam gol dan memberikan tiga assist — kontribusi yang sangat krusial bagi sebuah tim yang sangat jarang mencetak gol. Baumann mengakui bahwa Dzeko sebenarnya bisa mendapatkan bayaran jauh lebih tinggi di tempat lain, namun ia memilih Schalke — sebuah pilihan yang mencerminkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kalkulasi finansial.

Pada hari Sabtu, saat perayaan promosi berlangsung di lapangan, Dzeko terlihat berjalan sambil membawa bir di tangan, menikmati momen yang mungkin tak pernah ia bayangkan akan ia alami di penghujung karirnya. Ketika ditanya soal masa depannya, ia berbicara dengan hati yang terbuka. “Anda tidak pernah ingin berhenti bermain. Saya tidak ingin berhenti, sepak bola adalah hidup saya,” katanya kepada Sky Germany. “Tetapi pertama-tama kita bisa merayakan dan minum-minum… Setelah itu akan ada waktu untuk duduk bersama.” Kalimat itu terasa sempurna: seorang pria yang belum mau selesai dengan sepak bola, dan sepak bola yang tampaknya belum selesai dengannya.

Tillmann sendiri mengakui bahwa promosi ini datang lebih cepat dari yang direncanakan siapa pun. Dengan nada bercanda, ia mengutip pernyataan direktur olahraga Youri Mulder yang mungkin menggambarkan ekspektasi pramusim mereka dengan paling tepat: “Tujuan kami adalah agar kami tidak perlu memecat pelatih kami tahun ini.” Sederhana, rendah hati, dan ternyata jauh melampaui target. “Sejauh ini kami berada di jalur yang benar. Saya rasa kami tidak akan melakukan itu dalam beberapa minggu ke depan,” kata Tillmann dengan senyum.

Namun di balik nada santai itu, Tillmann sadar bahwa promosi membawa tantangan baru yang tak bisa diabaikan. Ketika promosi datang lebih awal dari perkiraan, ada godaan untuk berkata bahwa klub belum sepenuhnya siap. Tillmann menolak logika itu. “Anda tidak bisa mengatakan, kami belum sepenuhnya siap, jadi jangan promosi tahun ini. Kita lakukan tahun depan. Bukan begitu caranya.” Bagi Schalke, kesempatan yang datang harus disambut, bukan ditunda.

Dan bersama kembalinya Schalke ke Bundesliga, ada satu hal lagi yang kembali menjadi kenyataan: Revierderby. Duel antara Schalke dan Borussia Dortmund bukan sembarang pertandingan. Ia adalah salah satu derby paling bermuatan emosi dalam sepak bola Jerman, membelah kota-kota di kawasan Ruhr berdasarkan warna biru dan kuning. Baumann, yang belum pernah merasakan derby itu secara langsung dalam perannya di Schalke, tidak menyembunyikan antusiasmenya — sekaligus menegaskan bahwa antusiasme saja tidak cukup. “Ini akan menjadi derby pertama saya melawan Dortmund, jadi saya sangat bersemangat. Tetapi Anda tidak hanya bermain derby, Anda harus menang. Itu lebih penting,” katanya.

Pernyataan itu mungkin menjadi semacam manifesto tak resmi bagi Schalke yang baru. Mereka tidak kembali ke Bundesliga hanya untuk hadir. Mereka kembali dengan sesuatu yang ingin dibuktikan — kepada pendukung mereka, kepada para kritik, dan mungkin yang paling penting, kepada diri mereka sendiri.

HOT NEWS

TRENDING

Gol Saka di Ujung Babak Pertama Membawa Arsenal ke Final Liga Champions,…

Perpisahan yang Belum Tiba: Glasner Ingin Tinggalkan Crystal Palace dengan Trofi Eropa…

Luis Enrique Kirim Pesan Tegas ke Bayern: PSG Datang ke Munich Bukan…

Dramatis di Old Trafford: Gol Mainoo Bawa Manchester United Kembali ke Panggung…

Demi Perpisahan yang Layak, Liverpool Pastikan Salah Akan Kembali Sebelum Musim Usai

Scroll to Top