SETIAWD
Tiga Kali Absen dari Piala Dunia, Gravina Akhirnya Menyerah: Sepak Bola Italia di Ambang Krisis Terdalamnya
Setianews – Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), Gabriele Gravina, resmi mengundurkan diri pada hari Kamis, 2 April 2026, dua hari setelah tim nasional Italia kembali gagal melangkah ke pentas Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara berturut-turut. Pengunduran diri ini bukan sekadar keputusan pribadi seorang pejabat olahraga — ini adalah pengakuan pahit atas krisis struktural yang telah lama menggerogoti sepak bola negara yang pernah empat kali menjuarai Piala Dunia tersebut.
Keputusan Gravina hadir di bawah tekanan politik yang teramat besar. Menteri Olahraga Italia, Andrea Abodi, telah dengan lantang mendesak adanya perubahan kepemimpinan di federasi sehari sebelumnya, pada Rabu, setelah Italia kandas di babak play-off kualifikasi Piala Dunia. Azzurri — julukan tim nasional Italia — kalah melalui adu penalti dari Bosnia dan Herzegovina, sebuah kekalahan yang seketika menutup pintu mereka menuju turnamen yang akan digelar di Amerika Utara tahun ini. “Jelas bagi semua orang bahwa sepak bola Italia perlu dirombak total,” tegas Abodi, “dan proses itu perlu dimulai dengan kepemimpinan baru di FIGC.” Pernyataan menteri itu bukan sekadar retorika — ia adalah sinyal terang bahwa pemerintah tidak lagi memberi ruang bagi Gravina untuk bertahan.
Gravina sendiri telah memimpin FIGC sejak tahun 2018, ketika ia mengambil alih tampuk pimpinan dari Carlo Tavecchio yang juga mundur dalam kondisi serupa — yakni setelah Italia gagal lolos ke Piala Dunia Rusia 2018. Sejarah kini terulang dengan cara yang hampir identik, dan ironi itu tidak luput dari perhatian publik Italia. Di bawah kepemimpinan Gravina, federasi memang sempat meraih satu momen kebanggaan besar: gelar juara Kejuaraan Eropa pada tahun 2021, di mana Italia tampil dominan di seluruh turnamen. Namun kegemilangan itu kini hanyalah kenangan. Kegagalan demi kegagalan di kualifikasi Piala Dunia telah mengikis seluruh modal kepercayaan yang tersisa.
Kekalahan dari Bosnia dan Herzegovina menambah daftar panjang luka yang diderita oleh sepak bola Italia dalam satu dekade terakhir. Sebelumnya, Azzurri tersingkir oleh Swedia di play-off kualifikasi Piala Dunia 2018, lalu dipermalukan oleh Makedonia Utara di babak serupa menjelang Piala Dunia 2022. Kini, nama Bosnia dan Herzegovina menjadi episode terbaru dalam narasi memilukan itu. Jika ditarik lebih jauh, Italia sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda kemunduran sejak Piala Dunia 2010 dan 2014, ketika mereka gagal melewati babak penyisihan grup di dua edisi beruntun tersebut. Pertandingan fase gugur Piala Dunia terakhir yang dijalani Gli Azzurri adalah final tahun 2006 — ketika mereka menaklukkan Prancis lewat adu penalti untuk merebut gelar juara dunia keempat. Sudah dua puluh tahun berlalu, dan Italia belum juga kembali ke momen setinggi itu.
Gelombang pengunduran diri tidak berhenti pada Gravina. Tak lama setelah pengumuman mundurnya sang presiden federasi, Gianluigi Buffon juga menyatakan pengunduran dirinya sebagai kepala delegasi tim nasional Italia. Nama Buffon tentu tidak asing — ia adalah kiper legendaris yang menjadi bagian dari skuad pemenang Piala Dunia 2006, dan pemegang rekor penampilan terbanyak bagi Italia dengan 176 caps. Kini, ia menanggalkan peran terakhirnya dalam struktur tim nasional dengan lapang dada, sambil membuka jalan bagi kepemimpinan baru. “Adil untuk memberikan kebebasan kepada mereka yang datang setelah saya untuk memilih siapa yang akan menggantikan saya,” ujar Buffon dengan penuh ketenangan. “Mewakili tim nasional adalah suatu kehormatan dan gairah yang telah mewujudkan diri saya sejak kecil.” Kepergian Buffon bukan hanya kehilangan seorang figur berpengalaman, tetapi juga penutupan sebuah babak panjang yang menghubungkan era kejayaan 2006 dengan masa kini yang penuh gejolak.
Pengunduran diri Buffon juga membawa implikasi langsung bagi posisi pelatih kepala. Buffon diketahui berada di balik perekrutan Gennaro Gattuso, yang mengambil alih kursi pelatih dari Luciano Spalletti — dipecat pada bulan Juni setelah kekalahan memalukan dari Norwegia di pertandingan kualifikasi pembuka. Gattuso sempat memberikan secercah harapan ketika Italia mencatatkan enam kemenangan beruntun. Namun momentum itu runtuh ketika Azzurri kembali kalah dari Norwegia pada November, memaksa mereka finis di posisi kedua grup dan kembali melewati jalur play-off yang kejam. Dengan perginya Gravina dan Buffon, pemecatan Gattuso dianggap hampir pasti mengikuti. Nama-nama yang disebut-sebut sebagai kandidat pengganti pun bermunculan: Roberto Mancini, pelatih yang membawa Italia juara Eropa 2021 sebelum kemudian gagal di kualifikasi Piala Dunia 2022 dan kini menangani tim nasional Arab Saudi; Simone Inzaghi, yang merebut gelar Serie A bersama Inter Milan pada 2024 dan kini menukangi klub Saudi Al-Hilal; Antonio Conte, mantan pelatih Italia di Euro 2016 yang saat ini menangani Napoli; serta Massimiliano Allegri yang kini bersama AC Milan.
Di luar soal pelatih, krisis yang melanda sepak bola Italia sesungguhnya jauh lebih dalam. Presiden asosiasi pelatih Italia, Renzo Ulivieri, menyatakan bahwa masalah struktural ini bukanlah hal baru. “Sepak bola telah mengalami masalah sejak 2006,” katanya. Pernyataan itu seolah menegaskan bahwa kegagalan berulang di kualifikasi Piala Dunia bukan semata soal taktik atau nama pelatih, melainkan cerminan dari persoalan yang lebih mendasar — termasuk regenerasi pemain dan sistem pembinaan usia muda yang tidak berjalan optimal. Presiden asosiasi pemain, Umberto Calcagno, menambahkan bahwa perubahan regulasi sangat mendesak, khususnya terkait kuota pemain Italia di Serie A. “Perubahan cepat perlu dilakukan,” ujarnya, menyerukan aturan baru yang mendorong lebih banyak pemain berkebangsaan Italia mendapat menit bermain di liga domestik.
Dalam pengumuman pengunduran dirinya, Gravina juga menyebutkan bahwa ia akan hadir dalam sidang di parlemen Italia pada Rabu mendatang untuk membahas “kesejahteraan sepak bola Italia” — sebuah agenda yang tampaknya akan menjadi forum terakhirnya dalam kapasitas resmi sebagai presiden FIGC. Pemilihan untuk menentukan presiden baru federasi telah dijadwalkan pada 22 Juni mendatang, sehingga waktu transisi relatif singkat di tengah banyaknya pekerjaan rumah yang menanti.
Terlepas dari jabatannya di FIGC, Gravina masih memegang posisi sebagai wakil presiden utama Presiden UEFA Aleksander Ceferin. Statuta UEFA memang mensyaratkan bahwa anggota komite eksekutif harus merupakan pejabat senior di federasi masing-masing, namun Gravina berpotensi tetap berada di posisi UEFA sebagai wakil presiden sementara, selama kepemimpinan baru FIGC tidak menuntut pencopotannya. Gravina terpilih kembali oleh UEFA tahun lalu, sehingga masa jabatannya di sana masih tersisa tiga tahun. Ceferin sendiri mengakui arti penting Gravina dalam perjalanan UEFA. “Gabriele adalah wakil presiden pertama saya dan sangat penting bagi saya,” kata Ceferin kepada Gazzetta dello Sport pada hari Kamis, setelah ia hadir menyaksikan langsung pertandingan play-off di Bosnia yang memilukan itu.
Tantangan bagi pengganti Gravina tidak hanya soal merevitalisasi tim nasional. Pemimpin baru FIGC akan mewarisi tanggung jawab raksasa lainnya: mempersiapkan infrastruktur stadion Italia yang sudah menua untuk menyambut Kejuaraan Eropa 2032. Italia dijadwalkan menjadi tuan rumah bersama turnamen bergengsi itu bersama Turki, dan kondisi sejumlah stadion di negeri itu diketahui masih jauh dari standar modern. Ceferin tidak segan-segan melempar peringatan keras. “Saya berharap infrastrukturnya siap,” katanya. “Jika tidak, turnamen tersebut tidak akan dimainkan di Italia.” Pernyataan itu seharusnya menjadi alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan sepak bola Italia — bahwa krisis ini bukan hanya soal Piala Dunia yang gagal dicapai, tetapi juga soal masa depan dan wibawa sepak bola Italia di panggung internasional.
Hari-hari mendatang akan menentukan ke mana arah sepak bola Italia melangkah. Satu hal yang sudah pasti: era Gravina telah berakhir, dan tugas berat membangun kembali fondasi sepak bola negeri pizza itu kini menunggu tangan-tangan baru.
-
13 Apr 2026Sejarah Tercipta di Berlin: Marie-Louise Eta, Perempuan Pertama yang Memimpin Klub Pria di Lima Liga Top Eropa
-
10 Apr 2026Gol Bunuh Diri Fernandes Selamatkan Forest, Duel Sengit di Porto Berakhir Imbang
-
10 Apr 2026Tendangan Bebas Alvarez dan Dinginnya Sorloth Hancurkan Barcelona Sepuluh Orang di Camp Nou
-
08 Apr 2026Di Bawah Bayang-Bayang Paris, Slot dan Liverpool Bertaruh untuk Kebangkitan
-
07 Apr 2026James Rodriguez Kembali Berlatih, Minnesota United Tepis Isu Kondisi Mengancam Jiwa
-
07 Apr 2026Malam Penentuan di Lisbon: Arsenal Bawa Luka dan Ambisi ke Kandang Sporting demi Selamatkan Musim
-
06 Apr 2026Lewandowski dan Bencana Mallorca: Malam yang Mengubah Peta La Liga, Barcelona Tujuh Poin di Puncak
-
04 Apr 2026Pesta Gol di Kandang Baru, Legenda Hidup di Atas Lapangan: Barcelona Hancurkan Madrid dan Melaju ke Semifinal Liga Champions Wanita
-
03 Apr 2026Tiga Kali Absen dari Piala Dunia, Gravina Akhirnya Menyerah: Sepak Bola Italia di Ambang Krisis Terdalamnya
-
01 Apr 2026Empat Dekade Penantian Berakhir: Irak Singkirkan Bolivia dan Rebut Tiket Terakhir Piala Dunia
HOT NEWS
TRENDING
SETIAWD Manchester City Bangkit dan Hancurkan Chelsea di Stamford Bridge, Perburuan Gelar Liga Premier Kembali Membara Setianews – Ada…
SETIAWD Sejarah Tercipta di Berlin: Marie-Louise Eta, Perempuan Pertama yang Memimpin Klub Pria di Lima Liga Top Eropa Setianews…
SETIAWD Tendangan Bebas Alvarez dan Dinginnya Sorloth Hancurkan Barcelona Sepuluh Orang di Camp Nou Setianews – Malam di Camp…
SETIAWD Di Bawah Bayang-Bayang Paris, Slot dan Liverpool Bertaruh untuk Kebangkitan Setianews – Arne Slot berdiri di hadapan para…
SETIAWD Malam Penentuan di Lisbon: Arsenal Bawa Luka dan Ambisi ke Kandang Sporting demi Selamatkan Musim Setianews – Arsenal…
-
Chevalier Bersinar, PSG Tumbangkan Marseille untuk Angkat Trofi Champions Prancis
-
Fulham Tundukkan Chelsea 10 Pemain di Craven Cottage: Era Rosenior Dimulai dengan Pahit dari Tribun Penonton
-
Dua Gol Sesko Tak Selamatkan United: Era Pascapemecatan Amorim Dimulai dengan Hasil Imbang Pahit di Markas Burnley
-
Diallo Menyala, Gajah Perkasa: Pantai Gading Libas Burkina Faso 3-0 dan Tantang Mesir di Perempat Final
-
Ikone Membungkam Parc des Princes: Paris FC Singkirkan PSG, Derby Paris Hadirkan Kejutan Besar di Coupe de France
-
Torino Tikam Roma di Menit 90, Giallorossi Tersingkir 2-3 dari Coppa Italia
-
Maroko Libas Nigeria Lewat Drama Adu Penalti untuk Tembus Final Piala Afrika
-
City Dekati Marc Guehi: Kesepakatan Prinsip Disepakati di Tengah Krisis Pertahanan
-
Ulangan Final yang Membara: Chelsea Menjamu Manchester United di Babak Kelima Piala FA Wanita
-
Kembali ke Oranje: Van Nistelrooy Siap Asah Tajam Belanda Menuju Piala Dunia 2026
-
Kane Pimpin Kebangkitan: Bayern Lumat Leipzig 5-1, Rekor Menggunung dan Jarak 11 Poin Terjaga
-
Finalissima 2026 di Lusail: Tiket Spanyol vs Argentina Mulai Dijual 25 Februari, Qatar Gelar Pesta Sepak Bola Sepekan
-
Salah Kembali, Liverpool Lumat Marseille 3-0
-
Tiga Menit Ajaib Kane, Bayern 10 Pemain Melaju ke 16 Besar Liga Champions
-
Carrick Tetap Membumi: Euforia Derby Diredam, United Menatap Ujian Berat di Markas Arsenal
-
City Bangkit di Etihad: Marmoush–Semenyo Antar Kemenangan, Tekanan ke Arsenal Meningkat
-
Drama di Emirates: Roket Cunha Guncang Arsenal, Perebutan Gelar Kian Memanas
-
Trubin Menanduk Mimpi Madrid: Benfica Libas 4-2, Arbeloa Didorong ke Jalur Play-off Liga Champions
-
Blatter Dukung Seruan Fans Hindari Piala Dunia di AS, Isu Keamanan Memanas
-
Delapan Sempurna: Arsenal Sapu Bersih Fase Liga Champions, Kunci Puncak Klasemen Usai Tundukkan Kairat 3-2