SETIANEWS Berita Bola Terkini Situs Setiawd

SETIAWD

Ikone Membungkam Parc des Princes: Paris FC Singkirkan PSG, Derby Paris Hadirkan Kejutan Besar di Coupe de France

 

Setianews — Malam derby di Kota Cahaya berubah menjadi panggung balas dendam yang manis bagi Jonathan Ikone. Lulusan akademi Paris Saint-Germain itu mencetak gol penentu kemenangan 1-0 untuk Paris FC, menyingkirkan mantan klubnya dari Coupe de France dan mengirim kejutan bergaung di Parc des Princes pada babak 32 besar, Selasa dini hari WIB.

Masuk dari bangku cadangan, Ikone memanfaatkan satu momen emas di fase akhir laga untuk menyelesaikan serangan balik cepat PFC. Sang penyerang menolak berselebrasi, tetapi dampak golnya bergema keras: PSG, pemegang 16 gelar Coupe de France, menelan kekalahan kandang pertama mereka di ajang ini sejak 2022 dan tersingkir di babak 32 besar untuk pertama kali sejak 2014.

“Kami sangat senang, kami berhasil bertahan dengan baik,” ujar Ikone kepada France Télévisions. “Saya sangat senang dengan gol saya, sungguh menyenangkan, dan saya harap ini bukan gol terakhir saya.”

Atmosfer laga sudah emosional sejak sebelum sepak mula. Eks kapten PSG, Mamadou Sakho—yang mengawali langkah di akademi Paris FC sebelum menyeberang ke Paris—mengumumkan pengunduran dirinya di atas lapangan. Di tribune, sorak-sorai pendukung tuan rumah beradu dengan suara lantang pendukung PFC, klub promosi yang kini diperkuat dukungan LVMH dan Red Bull serta sedang berjuang menjauh dari zona play-off degradasi di Ligue 1.

Di atas lapangan, PSG asuhan Luis Enrique tampil menekan sejak awal. Khvicha Kvaratskhelia beberapa kali memaksa lini belakang PFC mundur dan bertahan di area sendiri. Paris FC sejatinya mendapat peluang berbahaya lebih dulu melalui Alimami Gory, namun sang winger harus ditarik keluar lima menit jelang jeda karena cedera, membuka jalan bagi masuknya Ikone.

Selepas turun minum, PSG nyaris memecah kebuntuan ketika umpan ceroboh bek tengah PFC Moustapha Mbow memberi kesempatan emas bagi Gonçalo Ramos. Tendangan melengkung sang penyerang sudah mengarah ke pojok, namun kiper PFC Obed Nkambadio bereaksi brilian untuk menepisnya. Penjaga gawang ini kemudian menahbiskan diri sebagai sosok krusial dengan serangkaian penyelamatan tenang dan berani di udara, mengikis kepercayaan diri tuan rumah seiring berjalannya waktu.

Ketika PSG terus menggempur dan laga memasuki seperempat jam terakhir, Paris FC menemukan celah. Satu transisi cepat memecah blok tinggi tuan rumah, dan Ikone—yang sepanjang malam tampak lapar bola—menyelesaikannya dengan sentuhan klinis untuk menaklukkan Parc des Princes. Tanpa selebrasi, ia hanya mengangkat tangan, seolah meminta maaf, sementara rekan setim dan staf PFC meledak dalam sukacita.

PSG berusaha merespons. Desire Doué mendapatkan peluang emas lewat sundulan pada masa tambahan waktu, namun Nkambadio lagi-lagi sigap. Di detik-detik terakhir, Vitinha melepaskan tembakan jarak jauh yang mengarah ke sudut, hanya untuk kembali dipatahkan kiper PFC dalam satu penyelamatan akrobatik yang mengunci malam bintang untuknya.

Hasil ini kontras dengan pertemuan liga para tetangga ibu kota awal bulan ini—derby kasta tertinggi pertama di Paris sejak 1990—ketika PSG menang 2-1 lewat gol-gol Doué dan Ousmane Dembélé. Sejak itu, Les Parisiens sempat mengangkat Trophée des Champions lewat adu penalti atas Marseille di Kuwait, tetapi di ajang piala domestik, mereka kini harus menelan pil pahit.

Bagi Paris FC, kemenangan ini lebih dari sekadar tiket ke babak 16 besar. Ini adalah pernyataan bahwa tim promosi yang banyak diremehkan mampu bertahan, menunggu momen, lalu menghukum lawan yang lebih besar. Di papan klasemen Ligue 1 mereka masih berjuang di posisi ke-15, dua poin di atas Nantes di zona play-off degradasi. Namun modal mental dari malam bersejarah di Parc des Princes ini bisa menjadi bahan bakar krusial untuk paruh musim yang menuntut.

Di sisi lain, PSG menghadapi evaluasi serius. Dominasi penguasaan bola dan intensitas pressing tidak berbuah gol, sedangkan efektivitas di kedua kotak—yang sering jadi pembeda dalam sepak bola piala—justru milik PFC. Sejumlah peluang matang gagal dimaksimalkan, sementara konsentrasi dalam transisi defensif tertebas hanya sekali, cukup untuk mengubah nasib laga.

Babak 16 besar sendiri sudah menanti. Di pertandingan terakhir babak ini, Marseille akan menghadapi Bayeux, klub divisi keenam yang menjadi tim berperingkat terendah yang tersisa. Laga dipindahkan ke Stade Michel-d’Ornano, Caen, untuk mengakomodasi penonton yang memadati stadion. Undian 16 besar telah digelar di Prancis utara sebelum kick-off partai tersebut.

Dari laga lain, mantan pelatih Wolves Gary O’Neil menandai debutnya sebagai arsitek Strasbourg dengan impresif: kemenangan 6-0 atas Avranches dari divisi keempat, sinyal kuat bahwa persaingan di fase berikutnya akan kian ketat.

Malam ini, sorotan utama tetap pada Jonathan Ikone. Dari anak akademi PSG menjadi antagonis di Parc des Princes, ia menulis babak baru dalam kisah derby Paris—satu gol, satu sikap menahan selebrasi, dan satu tiket berharga bagi Paris FC ke babak 16 besar Coupe de France.

HOT NEWS

TRENDING

Osimhen dan Baris Yilmaz Padamkan Kebangkitan 10 Pemain Juventus, Galatasaray Kunci Tiket…

Malam Milik Sorloth: Hat-trick Sensasional Antar Atletico Lumat Club Brugge 4-1 dan…

Malam Tanpa Gol, Penuh Makna: Leverkusen Amankan Tiket 16 Besar Usai Tahan…

Eze dan Gyökeres Mengoyak Tottenham: Arsenal Kembali Menggertak di Puncak, Derby London…

PSG Rebut Takhta Lagi: Doué-Barcola Menggeliat, Monaco Balikkan Lens dan Buka Jalan…

Scroll to Top